Tumbuh Dalam Bentuk yang Lain


“Kayu-kayuan bernyanyi merdu”
Belahan Dua, Upacara.

Novel Upacara adalah sebuah novel yang salah satu motifnya adalah memandang ulang tradisi. Setidaknya itu salah satunya. Dari halaman pertama pembaca disuguhi dengan kerumitan kondisi kultural yang menyatu dengan alam. Tetapi karena ditulis oleh anggota masyarakat sendiri, kerumitan itu tetap bisa diatasi dengan bentangan deskripsi yang jelas. Meski di beberapa bagian pembaca sering kali mengernyitkan kening untuk lompatan visual yang ekstrem.

“Naik dalam paduan yang aneh menggenang dalam udara desa yang sunyi.”

“Ada salak anjing, ada dengus babi, aum harimau, ada ringkik kuda, ada uak kerbau, ada kokok ayam, ada rintih orang sakit, ada cericit burung-burung, ada teriak panjang sekali. Panjang! Berbagai suara itu terus bersambung. Mendentur mengagsak sesama suara.”

“Kampung sunyi itu tiba-tiba penuh keanehan.”
Belahan Tiga, Upacara

Hal ini biasa di dalam tradisi penulisan, meski tidak banyak yang bisa mencapai apa yang dicapai Upacara ini. Tengoklah misalnya Alice in Wonderland Lewis Carroll. Untuk beberapa hal dan dengan sangat hati-hati, kita bisa menyandingkan kedua karya ini.

Fase-fase petualangan ganjil tokoh utama di belantara Kalimantan membentangkan horizon yang spektakuler. Lompatan alurnya mengagetkan, ditambah lagi dengan bab-bab yang ditandai dengan subjudul per belahan. Tahu-tahu si Aku tiba di hutan, tahu-tahu sudah berada di rimba raya yang aneh (jika tidak ingin mengatakannya mistik). Petualangan bawah sadar si Aku yang sakit dan belakangan tersadar dan sudah berada di tengah lamin, rumah adat orang Dayak di Kalimantan.

Berikutnya, sampai dengan Belahan Kelima, novel ini tetap mengejutkan. Membaca halaman per halaman novel ini kita disuguhi semacam ensiklopedia kultural yang berkelindan. Narasi dalam novel ini seperti seorang aktor yang sedang bereksperimen dengan dirinya sendiri, dengan panggungnya, tetapi ia tetap menyadari ia sedang ditonton.

Robby Ocktavian dan tim (untuk efisiensi, selanjutnya hanya ditulis Robby) mentransformasikan itu ke dalam media yang sama sekali berbeda dengan sastra. Visual yang hanya dimungkinkan dalam bentuk narasi teks dalam konvensi sastra, diwujudkan dalam wujud visual dalam kemasan layar monitor, lalu dalam wujud audio yang dikemas dalam box yang terhubung dengan headphone. Instalasi ini juga terkait gambar abstrak atau simbolis yang siap menawan pengunjung di ruang sederhana hari itu.

Merenungi Ritual karya Robby adalah merenungi kembali Upacara karya Korrie Layun Rampan yang saya bicarakan di atas. Tetapi ada semacam permenungan alternatif kali ini. Jika dalam teks sastra, jalan interpretasi adalah dengan mengikuti struktur tulisan -–kata demi kata, frasa demi frasa, lalu akhirnya halaman per halaman, di sini, Robby merekonstruksi itu semua ke dalam teknologi audio visual. Atau barangkali, hal yang paling ekstrem adalah menyajikan ulang narasi sebuah novel ke dalam bentuk ruang atau space.   

Di dalam ruangan persegi dilakukan penataan sedemikian rupa untuk instalasi audio visual Robby. Di tengah ruangan itu, agak dekat ke pintu utama, pengunjung disuguhi sebuah sajen: tumpeng dan lauk yang ditaburkan secara tertata di sekelilingnya. Tumpeng itu dilengkapi hio dengan bau khas ritual atau persembahan. Barangkali penataan yang dilakukan oleh Robby ini alamatnya masih terkait dengan novel yang sedang ia transformasikan dalam sebuah wahana yang sama sekali baru.

Jika lompatan alur dengan visual yang riuh digambarkan oleh Korrie dalam novelnya, maka oleh Robby, yang demikian itu diubah sedemikian rupa menjadi sebuah resonansi bunyi yang monoton dan dengan gambar yang cenderung absurd. Barangkali tidak salah jika dikatakan, kali ini Robby sedang bereksperimen. Menariknya, pengalaman inderawi saat menikmati karya ini masih menyisakan kelekatan personal terhadap interpretan Samarinda (ini diselenggarakan di Samarinda), atau Kalimantan Timur.

Bunyi kelotok dan visual sungai, misalnya, adalah tangkai-tangkai yang masih bisa dipegang oleh interpretan Samarinda. Melalui tangkai-tangkai itu, masih ada jalan untuk menemukan makna yang diantar oleh kreator. Visual sungai yang intens dan monoton itu seolah mewakili suara bahasa manusia “kamu harus di sini” atau “kamu ada di sini” atau sesuatu yang seperti itu. Kenapa harus di sini? Jawabannya ada pada penyimak. Di sisi lain, ada banyak bunyi distorsi yang tersaji, dan itu terangkai ke gambar visual yang juga “distorsi”. Hal semacam ini seperti memberikan kesempatan kepada kita bahwa sebenarnya ada yang salah dengan habitus kita selama ini. Atau setidaknya ada yang (telah) berubah. Coba buka kembali Upacara, dengan sangat verbal Korrie menulis “Tangan-tangan adat mencengkeram dengan kuku raksasanya” (Hal. 66). Teks ini menjadi distorsi jika diletakkan dalam history orang Dayak yang diwakili Korrie sebagai bagiannya.

Tulisan adalah lambang bunyi bahasa, demikian ilmu linguistik menerangkannya. Lalu visual, juga bunyi melambangkan apa? Di sana ada ide. Bunyi dan visual yang ditampilkan oleh Robby adalah cara kita untuk melekatkan ingatan terhadap kultur yang terjadi dalam gagasan tertentu yang hendak dicapai oleh Upacara-nya Korrie.Jika latar dalam novel tersebut terjadi beberapa dekade yang lampau, maka teknologi yang menjadi media instalasi Robby, menarik ide yang pernah tumbuh di beberapa dekade itu (tepatnya tahun 1974 sampai 1976 saat novel itu ditulis) ke masa kini sini. 

Robby adalah generasi baru, yang dilimpahi segala macam fasilitas. Ia mendapatkan kesempatan yang penuh untuk membaca kembali novel tersebut dan diwujudkan dalam instalasi audio visual di sebuah pameran. Meresapi karya baru ini sama seperti membiarkan ide Korrie tetap tumbuh dalam bentuk lain, dan dalam selera yang lain – selera kekinian.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *